Beranda Berita

Terdampak Corona, Konsumsi Listrik Diproyeksi Menurun

Terdampak Corona, Konsumsi Listrik Diproyeksi Menurun

JAKARTA – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) memproyeksikan penurunan konsumsi listrik untuk sektor bisnis dan industri di bulan Maret akibat pandemi virus corona atau Covid-19 di Indonesia.

Executive Vice President Pemasaran dan Pelayanan Pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Edison Sipahutar mengatakan imbauan untuk melakukan kerja dari rumah atau work from home (WFH) dan berkurangnya aktivitas di luar rumah ini berdampak pad menurunnya konsumsi listrik di sektor bisnis sebesar 0,9 persen hingga 1,8 persen.

Penurunan konsumsi listrik juga terjadi pada sektor industri yang diproyeksikan sebesar angka 1,2 persen sampai dengan 2,4 persen. Sementara, untuk konsumsi listrik rumah tangga akan mengalami kenaikan sebesar 1,5 persen hingga 2 persen.

“Rumah tangga meningkat tetapi perkiraannya penurunan konsumsi listrik di bisnis dan industri,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/3/2020).

Dampak Corona ini dapat membawa penurunan penjualan listrik secara total setahun. Adapun, diproyeksikan penurunan penjualan listrik PLN dalam setahun ini diperkirakan mencapai 0,6 persen hingga 1,2 persen akibat wabah Covid-19 ini. Proyeksi penurunan konsumsi listrik tersebut terjadi apabila merebaknya Covid-19 ini berlangsung untuk jangka waktu yang lama.

“Mudah-mudahan segera pulih, sehingga perkiraan penjualan listrik tidak mengalami penurunan,” katanya.

Di Januari lalu, penjualan mengalami pertumbuhan sebesar 3,8 persen atau lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang dapat mencapai 5,69 persen. Hal itu disebabkan oleh konsumsi listrik industri yang tumbuh negatif sebesar -1,61 persen.

“Yang bulan Februari data belum dirilis. Di Januari penjualan listrik keseluruhan hanya tumbuh 3,8 persen ini dikarenakan sektor industri yang tumbuh negatif konsumsi listriknya minus 1,61 persen, padahal Januari tahun lalu (y-o-y) konsumsi listrik industri capai 3,79 persen,” jelas Edison.

Rendahnya konsumsi listrik sektor industri di awal tahun ini dikarenakan turunnya pemakaian di industri tekstil, besi baja, kimia dan semen yang masing-masing tumbuh negatif sebesar -6,5 persen, -5,4 persen, -3,5 persen, dan -4,3 persen.

Untuk konsumsi listrik rumah tangga di Januari 2020 mengalami pertumbuhan 6,13 persen, sedikit lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 6,5 persen dan lebih tinggi bila dibandingkan konsumsi rumah tangga sepanjang 2019 yang mencapai 5,94 persen.

Konsumsi listrik bisnis di Januari tahun ini mencapai 5,5 persen, lebih rendah jika dibandingkan dengan Januari tahun 2019 yang mencapai 7,16 persen dan sepanjang tahun lalu yang mencapai 6,01 persen.

Hingga Februari kemarin, realisasi penjualan listrik PLN mencapai 40,5 TWh dengan pertumbuhan mencapai 5,79 persen. Angka pertumbuhan penjualan listrik hingga Februari ini lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang dapat mencapai 6 persen

Pertumbuhan penjualan listrik hingga Februari yang rendah ini disebabkan oleh konsumsi listrik industri sebesar 1,68 persen, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4,54 persen.

Sementara itu, untuk konsumsi listrik rumah tangga hingga Februari 2020 mengalami pertumbuhan 7,58 persen atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 7,04 persen dan lebih tinggi bila dibandingkan konsumsi rumah tangga sepanjang 2019 yang mencapai 5,94 persen.

Menurut Edison, rendahnya konsumsi listrik di awal tahun ini disebabkan oleh sejumlah faktor yakni banjir yang kerap terjadi di Januari dan Februari sehingga menyebabkan beberapa wilayah mengalami pemadaman.

“Ada pengaruh banjir tetapi dampaknya mengurangi pertumbuhan sekitar 0,15%. Banyak pemadaman sehingga menyebabkan energi tak terjual maksimal,” ucapnya.

Pihaknya optimistis target penjualan PLN dapat tercapai di tahun ini. PLN membidik penjualan listrik perusahaan ditargetkan dapat mencapai 256,70 Tera Watt hour (TWh) dengan pertumbuhan sebesar 4,55 persen hingga akhir tahun ini

Hal itu ditopang dari rencana untuk menambah konsumsi dari calon pelanggan potensial smelter, Kawasan Industri (KI), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan destinasi pariwisata.

“Sampai saat ini belum ada perubahan target. Kami terus monitor perkembangannya, termasuk pelanggan bisnis dan industri,” ungkapnya.

sumber artikel: bisnis.com