Beranda Berita

Smelter Freeport Mampu Proses 550.000 Ton Katoda Tembaga

JAKARTA – PT Freeport Indonesia (PTFI) memperkirkaan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur akan menghasilkan 550.000 ton katoda tembaga dan 6.000 lumpur anoda per tahun.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan pembangunan smelter dengan nilai investasi sekitar US$3 miliar ini memiliki dua fasilitas yakni untuk mengolah konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga dan  fasilitas pemurnian logam berharga atau Precious Metal Refinery (PMR).

Smelter tembaga memiliki kapasitas input 2 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan dapat menghasilkan katoda tembaga sebanyak 550.000 ton per tahun.

Untuk kapasitas fasilitas PMR bisa mengolah 6.000 lumpur anoda per tahun. Adapun produk turunan yang bisa dihasilkan dari fasilitas PMR itu yakni emas, perak, platinum, paladium, selenium, bismut, dan timbal.

“Khusus untuk produk emas, smelter tersebut bisa menghasilkan 35 ton per tahun. Kami sedang berbicara dengan Antam untuk mengambil emas yang dihasilkan,” ujarnya dalam RDP Komisi VII DPR RI, Rabu (19/2).

Saat ini, lanjutnya, PTFI hanya memiliki satu smelter yang mengolah dan memurnikan konsentrat PTFI di dalam negeri, yakni PT Smelting Gresik. Adapun PTFI memegang 25 persen kepemilikan dan sisanya dimiliki oleh Mitsubishi Corporation.

PT Smelting ini bisa memproses sekitar 300.000 ton katoda tembaga pertahun atau sekitar 40 persen dari produksi konsentrat tembaga PTFI. Sementara itu, 60 persen sisanya langsung di ekspor ke sejumlah negara, seperti Jepang, Korea, Filipina, India dan China.

“Smelter di JIIPE nantinya akan memproses 60 persen konsentrat hasil produksi PTFI. Sementara 40 persennya telah diolah di smelter PT Smelting,” katanya.

Kendati demikian, dia berharap akan ada pertumbuhan industri hilir yang bisa menyerap 100 persen produksi katoda tembaga PTFI. Sebab, kalau smelter PTFI yang di JIIPE ini selesai tetapi tak ada industri hilirnya maka 100 persen akan dieskpor.

“Perlu ada industri yang tumbuh sehingga bisa konsumsi katodanya. Nilai tambah tambang tembaga, ini berada dihulu mulai dari tambang bijih sampai dibuat konsentrat sekitar 95 persen. Sementara konsentrat jadi tembaga murni nilai tambah 5 persen, dengan biaya investasi yang US$3 miliar,” ucapnya.

Tony menambahkan pembangunan smelter dipastikan dilakukan di JIPE, Manyar, Gresik. Semula perusahaan memang sempat memiliki dua opsi wilayah, antara lain adalah satu wilayah dengan pabrik Petrokimia Gresik.

Namun setelah studi dilakukan perusahaan menilai keputusan untuk membangun di JIPE lebih layak dan efisien.

sumber artikel: bisnis.com