Beranda Berita

Saham BBRI Anjlok 7,81 Persen, Analis Perkirakan Akibat Pembagian Dividen  

Saham BBRI Anjlok 7,81 Persen, Analis Perkirakan Akibat Pembagian Dividen  

JAKARTA – Emiten pada sektor keuangan menjadi penekan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini, Kamis (27/2/2020).

Indeks sektor keuangan terjun 3,94 persen sementara rata-rata IHSG turun 2,69 persen menjadi 5.535,69 pada penutupan pasar. Rinciannya saham Bank Mandiri(BMRI) ditutup Rp7.350 atau turun sebesar 3,92 persen.  Sementara  saham Bank BNI, BCA, maupun Maybank turun masing-masing sebesr 3,80 persen, 2,02 persen, dan 3,70 persen.

Sementara penutunan harga terbesar harian terjadi pada Bank BRI yang longsor 7,81 persen menjadi 4.130.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwe menilai melorotnya harga saham emiten bank pada hari ini lebih karena  dampak virus corona.

Sementara, penurunan pada Bank BRI karena memasuki masa ex-date date atau hari setelah pencatatan pemegang saham yang berhak atas dividen.

“BBRI kasusnya karena itu [ex date], kenapa turun banyak? kalau kemarin dapat deviden, makanya hari ini turun [hampir] 8 persen, kalau normal 4 persen, karena kasus corona melemahnya banyak,” katanya kepada Bisnis, Kamis (27/2/2020).

Meskipun demikian, Hans masih menilai saham emiten bank masih akan prospektif karena merupakan tulang punggung perekonomian di Indonesia. Apalagi rata-rata emiten keuangan merencanakan pembagian dividen.

Perusahaan yang bagi deviden lebih bagus ketimbang tidak,” katanya.

BBRI dalam pengumumannya ke Bursa Efek Indonesia menyampaikan memberikan dividen Rp168,1 per saham atau setara 60 persen laba 2019. Tanggal cum date ditetapkan 26 Februari 2020. Sementara ex-date dilakukan pada 27 Februari. Dividen tunai akan diberikan pada 2 Maret 2020 mendatang.

Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia Frederik Rasali menyebutkan anjloknya saham BBRI karena investor melakukan aksi ambil untung setelah mendapat dividen yang dicatatkan kemarin. Sementara untuk emiten keuangan lainnya lebih dikarenakan tekanan akibat sentimen global.

Menurutnya,dalam jangka panjang, saham perbankan terutama yang berkapitalisasi besar tetap bisa menjadi pilihan karena pertumbuhan industri seiring dengan ekonomi Tanah Air.

“Saat mengalami penurunan seperti sekarang  justru saham kapitalisasi besar dan yang rajin membagikan dividen cocok untuk menjadi sasaran investasi,” katanya.

sumber artikel: bisnis.com