Beranda Berita

Rupiah Catat Kinerja Bulanan Terbaik, Siap Tembus Level 13.900 an ?

Rupiah Catat Kinerja Bulanan Terbaik, Siap Tembus Level 13.900 an ?

JAKARTA – Rupiah berhasil mencatatkan kinerja bulanan terbaik melawan dolar AS sejak awal tahun ini didorong oleh aliran dana asing masuk yang berkelanjutan ke obligasi Indonesia dan optimisme damai dagang AS dan China yang berhasil membangkitkan selera investor untuk mengumpulkan aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang Oktober 2019 rupiah telah bergerak menguat 1,08% melawan dolar AS. Sementara itu, sepanjang tahun berjalan 2019 rupiah telah naik 2,47% dan menjadi mata uang terkuat ketiga di antara mata uang Asia lainnya.

Adapun, pada penutupan perdagangan Kamis (31/10/2019) rupiah berada di level Rp14.043 per dolar AS, terdepresiasi tipis 0,085% atau 12 poin.

Penguatan rupiah juga dipicu oleh banyaknya dana asing yang masuk ke dalam negeri. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, hingga 30 Oktober 2019 total kepemilikan investor asing dari Surat Utang Negara Rupiah sebesar Rp1.057 triliun dan dinilai menjadi level tertinggi sepanjang sejarah.

Selain itu, jumlah dana asing yang masuk ke obligasi indonesia sebesar US$28,5 juta pada 29 Oktober, menjadi 10 hari berturut-turut arus dana masuk ke dalam negeri. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang dijual sebesar US$4,87 juta di pasar saham pada 30 Oktoberdan menjual di 4,87 juta di pasar saham.

Keputusan The Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin yang melemahkan dolar AS juga menjadi sentimen positif bagi pergerakan rupiah dan aset berisiko lainnya.

Kepala Strategi Makro Asia Westpac Singapura Frances Cheung mengatakan bahwa pasar asia tampaknya membaca retorika Fed yang kurang dovish sebagai tanda titik balik dalam pertumbuhan.

“Selama stabilitas pasar rupiah tetap terjaga, arus masuk ke obligasi kemungkinan akan terus berlanjut untuk mencari imbal hasil ketika sentimen risiko mendukung,” ujar Frances seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (31/10/2019).

Adapun, imbal hasil obligasi Indonesia untuk tenor 10 tahun kini berada di level 7,107%.

Mengutip riset Everest Fortune Group, pasangan USD/IDR dinilai akan terus bearish dengan level resisten berada di Rp14.054 per dolar AS dan diproyeksi terus jatuh di kisaran level support Rp13.934 per dolar AS.

“Penembusan dari level Rp13.990 per dolar AS mungkin akan terus membuat rupiah menguat ke level support pertama kami,” tulis Everest Fortune Group.

Sementara itu, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pelemahan rupiah pada perdagangan kali ini disebabkan rilis data ekonomi China yang lebih rendah daripada perkiraan.

Indeks PMI Manufaktur Pemerintah China periode Oktober 2019 berada di level 49,3 dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebesar 49,8.

“Angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi. Kontraksi aktivitas manufaktur China di bulan Oktober menandai kontraksi selama enam bulan beruntun,” ujar Ibrahim dikutip dari keterangan resminya.

Tidak hanya itu, pertemuan dewan Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik November di Chili, yang seharusnya memberikan tempat asli untuk penandatanganan perjanjian perdagangan parsial antara AS dan China terpaksa dibatalkan akibat kondisi Chili yang tidak kondusif.

Pasar khawatir terkait kepastian penandatanganan perjanjian antara kedua negara yang telah mengalami sengketa dagang selama setahun terakhir.

sumber artikel: bisnis.com