Beranda Berita

Konsumsi Listrik Melambat, Aktivitas Industri Melemah

Konsumsi Listrik Melambat, Aktivitas Industri Melemah

JAKARTA – Laju pertumbuhan penjualan listrik diperkirakan masih menunjukkan tren perlambatan pada tahun ini.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa berpendapat laju pertumbuhan konsumsi listrik untuk tahun ini memang melambat dimana melanjutkan tren beberapa tahun terakhir.

“Diperkirakan laju pertumbuhan listrik secara sepanjang tahun ini sebesar 4,5 persen hingga 4,8 persen. Industri bisa lebih rendah daripada itu,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (8/3/2020).

Dalam dua bulan awal tahun ini, laju pertumbuhan penjualan listrik diperkirakan berada di bawah 4 persen. Hal ini sama seperti periode yang sama tahun sebelumnya dimana pada bulan Januari hingga Februari konsumsi listrik masih rendah.

“Lazimnya di kuartal I, bulan Januari-Februari laju pertumbuhan penjualan listrik masih rendah,” katanya.

Fabby menilai melambatnya konsumsi listrik di tahun ini disebabkan efek dari virus Corona yang mengakibatkan perlambatan ekonomi membuat aktivitas industri terganggu.

Hal ini mungkin terjadi karena efek perlambatan ekonomi di China dan penggunaan energi turun drastis di sana sehingga dampaknya bisa menjalar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

“Untuk menilai dampak virus Corona perlu dilihat juga konsumsi di kuartal I dan output industri, pertumbuhan ekonomi, besar ekspor, tingkat inflasi dan sebagainya, paling tidak selama kuartal I tahun ini. Dengan demikian bisa dilihat korelasinya,” terangnya.

Kendati demikian, lanjutnya, tanpa efek virus Corona, laju pertumbuhan listrik industri melambat atau rendah. Dengan adanya efek Corona tentu memukul atau menekan pertumbuhan listrik industri dimana pertumbuhannya bisa turun menjadi 4,2 persen sampai 4,5 persen.

Selain itu, terjadinya banjir yang menimpa sebagian besar Jabodetabek dan Bekasi dalam dua bulan pertama ini juga berdampak pada penurunan konsumsi listrik. Aktivitas industri dan ekonomi lainnya juga pasti terganggu sehingga membuat laju pertumbuhan listrik terganggu.

“Konsumsi listrik itu hasil dari pertumbuhan ekonomi. PLN tidak punya kendali atas kinerja ekonomi. Walaupun PLN bisa saja intensifikasi marketing dan membuat paket-paket insentif misalnya diskon itu industri,” tuturnya.

Dia menilai perlu ada stimulus yang diberikan khususnya bagi sektor industri yang melakukan kegiatan ekspor. Salah satu stimulus yang dapat diberikan yakni berupa diskon tarif listrik yang saat ini tengah dikaji oleh pemerintah.

Selain itu, dia mengusulkan upaya untuk meningkatkan konsumsi listrik terutama di rumah tangga dengan mempromosikan penggunaan kompor listrik.

“Hal ini dilakukan untuk memacu pengguna listrik rumah tangga di kota menggunakan kompor listrik,” ucap Fabby.

sumber artikel: bisnis.com