Beranda Berita

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, 28 Februari 2020

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, 28 Februari 2020

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melesu seiring dengan langkah investor yang menghindar dari aset berisiko seperti saham.

Pada penutupan perdagangan Kamis (27/2/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,69 persen atau 153,23 poin menuju level 5.535,69. Ini menjadi level terendah sejak 16 Maret 2017 di posisi 5.518,24.

Sejalan dengan penurunan indeks, kapitalisasi pasar di BEI juga menurun Rp177,14 triliun menjadi Rp6.399,86 dibandingkan Rabu (26/2/2020) senilai Rp6.577 triliun.

Seluruh 9 sektor menetap di wilayah negatif pada akhri perdagangan hari ini, didorong oleh sektor finansial yang anjlok 3,94 persen dan barang konsumsi yang turun 2,36 persen.

Dari 682 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 77 saham menguat, 334 saham melemah, dan 271 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing turun 7,81 persen dan 2,02 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menyatakan secara umum pelarian modal ke investasi emas tercermin dari harga emas global di pasar spot.

Pelarian modal ke instrumen safe haven seperti emas mencerminkan tingkat risiko yang besar di pasar saham. Untuk itu, Alfred tidak menyarankan investor melakukan perdagangan saham dalam kondisi penuh volatilitas seperti saat ini.

Lebih lanjut,dia memperkirakan IHSG masih akan bergerak di zona merah dengan level support 5.520 dan resistance 5.580 pada pembukaan perdagangan Jumat (28/2/2020).

“Malam ini, jika bursa Amerika bisa ditutup positif kemungkinan bursa kita bisa juga mengalami hal yang sama, karena koreksinya sudah cukup dalam, 350 poin,” jelasnya.

Sementara itu, PT Bursa Efek Indonesia menyiapkan sejumlah langkah dalam merespons pergerakan pasar domestik, mulai dari melakukan analisis hingga memberhentikan perdagangan untuk sementara.

Direktur Bursa Efek Indonesia Laksono Widodo mengatakan pihaknya memiliki tahapan prosedural crisis management protocol (CMP) untuk mengantisipasi pasar, berdasarkan indikator penurunan indeks.

Sesuai prosedur ketika pasar turun lebih dari 2 persen, jelas Laksono, BEI melakukan pemantauan pasar (market watch) dan menganalisa berbagai sentimen yang menekan indeks untuk mencari penyebabnya, baik dari faktor global maupun domestik.

“Yang penting kita tahu alasannya, yang kita takutkan kan ini market turun tapi nggak tahu ada apa,” katanya saat dihubungi Bisnis, Kamis (27/2/2020).

Dia mengatakan hingga saat ini BEI masih terus mengamati pasar secara ketat. Namun, jika kondisi pasar terus tergerus dan penurunan berlanjut, BEI juga akan mulai melakukan langkah selanjutnya.

Jika penurunan menyentuh 5 persen, Laksono menyebut itu sudah memasuki masa krisis. BEI akan mulai berkoordinasi dengan stakeholder bursa seperti PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) untuk mendiskusikan langkah selanjutnya dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kemudian jika pasar terus turun hingga level 7,5 persen maka BEI akan mengambil keputusan bersama-sama dengan OJK dan Kementerian Keuangan karena di level ini masalah bukan hanya berasal dari pasar modal saja. CMP juga sudah akan mulai dijalankan.

“Kalau turun terus sampai level 10 persen, maka pasar akan ditutup atau disuspensi untuk sementara,” tambah dia.

Laksono menilai saat ini pasar belum memasuki tahapan kritis dan mereka masih melakukan pemantauan. Menurutnya, kondisi saat ini lebih diakibatkan oleh tekanan dari global akibat makin luasnya wabah corona atau Covid-19.

Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menyampaikan ada sejumlah saham yang dapat diperhatikan investor pada hari ini, yakni BBNI, ASII, JSMR, SRIL, BBCA, ASGR, ROTI, WIKA, TBIG, ADHI, TLKM, HMSP.

sumber artikel: bisnis.com