Beranda Berita

Pasar Optimistis Ekonomi Indonesia Membaik, Rupiah Ikut Menguat

Pasar Optimistis Ekonomi Indonesia Membaik, Rupiah Ikut Menguat

JAKARTA – Optimisme pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia mendorong rupiah ke zona hijau, Selasa (12/11/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah sukses bangkit dari penurunannya dengan penguatan 13 poin atau 0,09% di level Rp14.054 per dolar AS, Selasa (12/11).

Dalam risetnya, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mencatat, informasi tentang ekonomi Indonesia yang membaik membawa berkah bagi pelaku pasar, sehingga optimisme kembali menguat di kalangan pebisnis.

Menurutnya, perbaikan ekonomi tersebut terlihat dari membaiknya defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal III/2019 yang menyempit jadi 2,7% dibandingkan dengan sebelumnya 3,0% dari PDB. Kemudian, PDB tumbuh 5,02% pada kuartal III/2019 di atas perkiraan pasar.

“Di samping itu Bank Indonesia hari ini berhasil membawa rupiah kembali menguat walaupun indeks dollar juga menguat berkat intervensi di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan DNDF [Domestic Non Deliverable Forward] yang dibuka dari jam 08.30-16.00 WIB,” katanya.

Ibrahim menggarisbawahi bahwa negatifnya data eksternal tidak serta merta mata menjatuhkan mata uang garuda, tetapi sebaliknya rupiah kembali perkasa.

Namun, dia memprediksi, dalam transaksi besok rupiah kemungkinan akan melemah di level Rp14.015 – Rp14.080 per dolar AS. Mengingat, masih tidak menentunya situasi global saat ini.

Pada perkembangan lain, Ibrahim mencatat, dorongan yang signifikan bagi Perdana Menteri Boris Johnson menjelang pemilihan 12 Desember, pemimpin Partai Brexit Nigel Farage mengatakan, partainya sedang mengundurkan diri dari kursi yang dimenangkan oleh Konservatif pada 2017.

Sebagai gantinya, dia akan fokus menantang politisi anti-Brexit. Kemungkinan pemerintah yang dipimpin oleh Partai Buruh yang akan semakin mempersulit keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

“Sudah pasti positif bahwa Konservatif mendapat dukungan yang lebih besar. Tetapi dengan satu bulan menjelang pemilihan 12 Desember, saya tidak terlalu optimis karena saya pikir segala sesuatu masih bisa terjadi,” kata Sera.

Selain itu, pasar  meragukan apakah Beijing dan Washington dapat mencapai kesepakatan perdagangan potensial dan menurunkan tarif, dan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan Hong Kong.

“Termasuk, kehati-hatian diputuskan menjelang pidato Presiden Trump kepada Economic Club of New York di kemudian hari seandainya ada kata baru dalam kesepakatan perdagangan fase satu AS & China,” kata Ibrahim.

Di Hong Kong, polisi anti huru hara menembakkan gas air mata di kampus universitas pada Selasa (12/11) pagi waktu setempat, sehari setelah seorang pemrotes ditembak dan seorang pria dibakar. Peristiwa itu menjadikan kerusuhan tersebut paling dramatis untuk mengguncang Hong Kong.    

sumber artikel: bisnis.com