Beranda Inspirasi Bisnis

Mengintip Cara Pee Wee Gaskins Cari Cuan Selain Dari Manggung

Mengintip Cara Pee Wee Gaskins Cari Cuan Selain Dari Manggung

JAKARTA – Pernak-pernik atau merchandise resmi dari suatu band, acap kali dinilai tak lebih dari sekadar pelengkap yang digunakan saat konser atau temu sapa digelar dengan para penggemarnya.

Awalnya memang demikian, pendapatan suatu band yang diperoleh dari penjualan merchandise resmi sangatlah kecil apabila dibandingkan dengan pendapatan dari royalti penjualan album fisik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, penjualan album fisik terus mengalami penurunan di era digital.

Mengandalkan pendapatan dari konser saja tentunya sulit. Permintaan manggung tidak datang begitu saja, terlebih bagi band indie dengan genre yang berbeda dengan selera kebanyakan orang atau anti-mainstream.

Bahkan tak jarang pula diantaranya yang terseok-seok lantaran tidak bergabung dengan platform layanan streaming musik seperti Spotify, JOOX, dan lain-lain. Tentu satu-satunya harapan agar bisa bertahan dan tetap menelurkan karya-karya baru adalah pendapatan dari penjualan merchandise resmi.

Alditsa Sadega, vokalis yang juga basist dari band pop punk Pee Wee Gaskins menyebut merchandise resmi yang dijual secara langsung saat event tertentu maupun lewat platform dagang-el punya peran yang sangat penting. Menurut pria yang tenar dengan nama panggung Dochi itu, tak jarang pendapatan dari penjualan merchandise resmi menjadi juru selamat bagi band tersebut.

Merchandise dan musik itu dua hal yang saling berhubungan. Nggak jualan merchandise kita nggak bisa berkarya atau main musik. Penghasilan Pee Wee Gaskins dari merchandise itu kedua setelah manggung,” katanya dalam sebuah diskusi yang digelar di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Jumat (7/2/2020).

Lebih lanjut, menurut Dochi merchandise resmi punya pangsa pasarnya tersendiri, yaitu mereka yang benar-benar mengekspresikan dirinya sebagai Dorks, Dorkzilla, atau Tatiana, sebutan bagi penggemar setia Pee Wee Gaskins. Dia menyebut penjualan merchandise resmi band yang dibentuk pada 2007 itu masih didominasi oleh kaos oblong dengan beragam desain.

“Sekarang perbulan omzetnya bisa 35-50 juta untuk kaos oblong, kita belum ada reseller. Hanya jual langsung lewat e-commerce atau bawa merchandise ketika manggung di luar kota. Transaksinya untuk yang manggung di luar kota ini bukan divenue [konser] ya, tapi di hotel tempat kita menginap. Fans datang bertransaksi sekalian untuk meet and greet juga dengan personil. Nggak ada merchandise guy, untuk memangkas biaya [operasional] langsung dengan personel [transaksinya],” paparnya.

Selain kaos oblong, Dochi menyebut merchandise resmi Pee Wee Gaskins yang banyak dicari oleh penggemar setianya adalah rokok elektrik atau vape yang baru diluncurkan tahun lalu. Dia tak menyangka kalau permintaan vape yang pembuatannya berkolaborasi dengan CoilArt itu akan membludak.

“Sekarang sudah 30.000-an mungkin diproduksinya, kurang dari setahun. Sudah repeat (ulang) produksinya sampai tiga kali. Mungkin karena vape ini lagi hype juga saat ini ya,” ungkapnya.

Dochi menambahkan dirinya secara pribadi juga menjual produk-produk pakaian dengan brand tersendiri bersama dengan personel lainnya dengan saluran distribusi yang terpisah. Namun, dirinya menjamin brand tersebut tidak akan mengganggu penjualan merchandise resmi dari Pee Wee Gaskins.

“Sunday Sunday Co. (brand pakaian besutan Dochi) tidak akan kanibal dengan brand punya personel lain Pee Wee Gaskins apalagi merchandise resmi. Semua ada pangsa pasarnya masing-masing,” imbuhnya

sumber artikel: bisnis.com